akar keraguan terhadap agama ,problem kejahatan,dan pluralisme
Artikel Tentang Akar Keraguan Terhadap Agama, Problem Kejahatan, Dan Pluralisme Agama
• Akar Keraguan Terhadap Agama
1. Natularisme
Salah satu problem yang dihadapi manusia modern, terutama para ilmuan adalah apakah agama dapat sejalan dengan teori-teori ilmiah? Sebab,ilmu menekankan pembahasannya pada alam fisik sedangkan agama pada hal yang diluar fisik. Ilmu menyelidiki natur sedangkan agama membahas supernatur.
Ilmu tidak dapat tersususn kecuali atas dasar hukum alam yang tetap. Dasar intelektual ilmu sudah dirintis sejak zaman filsafat yunanai. Filsafat yunani mengatakan bahwa alam berjalan menurut hukum-hukum yang tetap dan sistem yang sama (unifornity of nature). Ilmu disususn atas prinsip tersebut,baik dimasa yang lalu maupun dimasa sekarang dan akan datang. Suatu teori ilmiah tidak dapat dicapai kalau keberagaman dan fafkta-fakta yang ada dalm alam tidak mempunyai hukum atu aturan yang jelas dan tetap.
Ahli kedokteran perancis, claude Bernard, mengatakan bahwa sarat utama yang harus dipenuhi oleh ilmuwan yang menyelidiki alam adalah bahwa dia harus mempunyai pikiran yang merdeka secara mutlak beerdasarkan aas kesangsian filsafat, tetapi ia harus tidak menjadi orang yang skeptis, ia harus percaya pada hubungan yang pasti dan erat antara sebab dan akibat baik dalam arti makhluk hidup maupun benda yang mati.
Pendapat yang semacam ini sebenarnya sudah pernah dikemukakan oleh ibnu rosyid. Menurutnya, hubungan sebab dan akibat adalah suatu hubungan yang tetap dan pasti karena tanpa kepastian hubungan sebab akibat tidak akan ditemukan suatu teori ilmiah.
Selain itu, jika semua benda tidak mempunyai ciri tertentu maka seseorang akan sulit memberikan definisi terhadap benda itu, seperti api sifatnya membakar. Kalau sifat membakar tidak ada pada api, maka api sama dengan benda lain dan semua benda alam menjadi sama, padahal setiap benda memiliki ciri-ciri khusus.
2. Humanisme Dan Eksistensialisme
Istilah humanisme berasal dari humanitas, yang berarti pendidikan manusia. Humanisme menegaskan bahwa manusia adalah ukuran segala sesuatu. Kebesaran manusia harus dihidupkan kembali, yang selama ini terkubu pada abad pertengahan.Humanisme pada awalnya tidak anti agama. Humanisme ingin mengurangi peranan institusi gereja dan kerajaan yang begitu besar, sehingga manusia sebagai makhluk Tuhan kehilangan kebebasannya.
Puncak perkembangan humanisme adalah eksistesialisme. Eksistensialisme mengakui bahwa eksistensi mendahului esensi (hakikat). Sebagaimana Marxisme, eksistensialisme mengutamakan manusia sebagai individu yang bebas danmenghilangkan peranan Tuhan dalam kehidupannya. Eksistensialisme mengutamakan kemajuan dan perbaikan. Nietzsche salah seorang tokoh eksistensialisme dengan lantang mengatakan bahwa Tuhan telah mati dan terkubur.
• Problem Kejahatan
Kejahatan pada prinsipnya dapat dibagi menjadi dua macam yaitu :
1. kejahatan moral berasal dari manusia
2. Kejahatan alam yang berasal dari luar kemampuan manusia
Kedua kejahatan di atas terlihat seperti berbeda namun kedua kejahatan ini kadangkalasaling berkaitan contohnya banjir. banjir yang asalnya adalah kejahatan alam bisa juga berasal dari manusia karena hutan dieksploitasi secara besar-besaran dan bisa juga dikarenakan buang sampah secara sembarangan.
• Pluralisme Agama
Pluralisme agama (dalam arti yang luas) yang berbeda-beda dalam suatu komunitas dengan tetap mempertahankan ciri-ciri spesifik atau ajaran masing-masing agama (Anis Malik Thoha). Sedangkan pluralitas agama dipandang sebagai sebuah pengakuan atas keberagaman dan keberadaan agama-agama dengan tetap memegang prinsip dan cara pandang satu agama terhadap agama yang lain dalam arti positif (walau ada anggapan distorsi pada agama lain) disertai keyakinan akan kebenaran agamanya di atas agama yang lain dengan menafikan pemaksaan (konfersi) keyakinan kepada penganut keyakinan lain apalagi menggunakan kekerasan, baik secara struktural maupun kultural.
Klaim-klaim kebenaran (truth claims) atas satu agama terhadap agama lain adalah bagian yang inhern pada setiap agama dan keyakinan. Maka hal yang wajar bila hal itu menjadi bagian aqidah yang harus dipegang teguh oleh pemeluknya dan menjadi bagian motivator pelaksaanaan ritual-ritual dan kebanggaannya sebagai orang yang beriman. Pada 28 Juli 2005, Majelis Ulama Indonesia menerbitkan fatwa melarang paham pluralisme dalam agama islam. Dalam fatwa tersebut, pluralisme didefiniskan sebagai""Suatu paham yang mengajarkan bahwa semua agama adalah sama dan karenanya kebenaran setiap agama adalah relatif; oleh sebab itu,setiap pemeluk agama tidak boleh mengklaim bahwahanya agamanya saja yang benar sedangkan agama yang lain salah.Pluralisme juga mengajarkan bahwa semua pemeluk agama akan masuk dan hidup dan berdampingan disurga".Namun, paham pluralisme ini banyak dijalankan dan kian disebarkan oleh kalangan Muslim itu sendiri. Solusi Islam terhadap adanya pluralisme agama adalah dengan mengakui perbedaan dan identitas agama masing-masing (lakum diinukum waliyadiin).Tapi solusi paham pluralisme agama diorientasikan untuk menghilangkan konflik dan sekaligus menghilangkan perbedaan dan identitas agama- agama yang ada.
• Komentar Atau Opini
Kalau kita melihat dari penjelasan diatas tentu ketiga hal tersebut tidak pernah terlepas dari namanya konflik. Dimana konflik ini memiliki bentuk bermacam-macam. Pertama konflik antara percaya dan ragu.Konflik ini sering dialami oleh kebanyakan orang terutama bagi yang pengetahuan agamanya rendah atau pas-pasan. Orang seperti ini biasanya mudah sekali terpengaruh oleh orang lain karena dirinya tidak mempunyai pedoman yang kuat serta pendirian yang teguh. Kedua konflik antara pemilihan satu diantara dua macam keagamaan.Ia menganggap semua agama itu bagus dan baik sehingga ia mengalami kesulitan dalam memutuskan agama mana yang akan ia anut.Ketiga konflik yang terjadi oleh pemilihan antara ketaatan beragama atau sekularisme.Disatu sisi ia percaya dengan kehidupan akhirat dan ingin selamat dari neraka sedangkan disisi lain ia ingin hidup merdeka dan terbebas dari peraturan agama yang membatasinya. Keempat konflik yang terjadi antara melepaskan kebiasaan masa lalu dengan (adat) dengan kehidupan keagamaan yang didasarkan atas petunjuk Ilahi.Bentuk konflik yang keempat ini biasanya sangat sulit diselesaikan,apalagi sampai harus melepaskan suatu kebiasaan yang sudah mendarah daging.
Komentar
Posting Komentar